Tragedi pasar lebaran

Secara perlahan ku buku mataku , kulihat sesosok wanita duduk di hadapanku sambil mengusap keningku. belaian tangannya terasa begitu lembut dan pancaran sinar matanya berkilau , aku mengenali wanita itu. Ibu ? sesosok wanita lembut itu ku panggil Ibu. Seorang wanita yang selalu ada di hidupku.

"alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga nak , ayo minum air ini dulu" kata yang kudengar dari mulut ibu yang kedengerannya sangat mengkhawatirkanku. "nak, kamu tidak apa-apa ? apa yang dirasain ? pusing ?" ibu terus menyaiku dengan sangat khawatirnya. Sesaat aku hanya diam karena tak berdaya , mungkin saat itu aku seperti orang yang linglung. Beberapa menit kemudian , jiwa seperti kembali ke ragaku aku langsung berdiri dan berkata "ayo bu kita pulang, aku tidak apa-apa" sahutku yang tiba-tiba seperti tak ada kejadian ap-apa. Ibuku bingung , kaget dan masih mengkhawatirkanku terus saja beliau menyuruhku untuk istirahat terlebih dahulu dan menyuruhku untuk minum air terlebih dahulu. Namun, saat itu aku ingat aku sedang berpuasa sehingga aku tak mau membatalkan puasa lagipula saat itu aku merasa kuat. Orang yang tadinya berkerumun akhirnya secara perlahan bubar. "Ibu, aku kuat jalan kok, ayo kita pulang" aku meyakinkan ibuku. Akhirnya, ibuku pun menuruti kemauanku. aku berjalan dipapah ibuku dan adik kembarku.

Tak jauh kami berjalan, tempat parkir mobil keluargaku sudah di depan mata. Kulihat ayahku yang tampak curiga melihat tingkah laku kami. "Kenapa ?" tanya ayahku. "Tidak apa-apa kok , memangnya ada apa yah ?"jawabku yang tak ingin ayahku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kulihat muka ibuku yang terlihat Pucat karena terlalu mengkhawatirkanku. "kakak tadi pingsan di tengah jalan yah"kata adik kembarku. aku terkejut mendengar kata-kata itu. tak menyangka adikku memberitahukan kejadian itu pada ayahku. Secara langsung, saat itu juga tanganku langsung mencubit pinggang adikku dan berkata kepada ayahku " Tidak kok yah , tadi cuma kecapaian dan aku duduk , tidak pingsan kok". aku mencoba meyakinkan ayahku. Ayahku langsung menoleh dan bertanya pada ibu "novi pingsan ya bu , benar ?". aku langsung menoleh pada ibu dengan muka memohon untuk tak memberitahukan yang sebenarnya pada ayah. "tidak kok " sahut ibuku yang seperti mengerti bahasa tubuhku. ayahku tampak tak percaya , namun beliau tak mau memperdebatkannya. kami pun masuk ke dalam mobil.

Saat perjalan pulang menuju rumah , kami bercerita seperti biasa. Namun, ternyata ayahku masih mempertanyakan kejadian apa yang sebenarnya terjadi. akhirnya ibuku pun bercerita "tadi ketika sedang keliling berbelanja , novi pingsan tapi tidak sampai tergeletak ke jalanan kok , ini juga mungkin faktor karena dia lagi berpuasa" tutur ibuku. aku sudah menebak apa yang akan di komentari oleh ayahku tak lain, beliau pasti kecewa terhadapku karena aku tak bisa menjaga kesehatanku."ya Allah, kok bisa begitu ? ini pasti karena kamu tidak mau makan ? inilah akibatnya kalau disuruh makan saja tidak mau, badan lemas tak ada tenaga, bagaimana nanti kalau sudah jauh dari kami nanti? kalau kamu tidak bisa mengatur pola hidup dan pola makan yang baik kamu tidak akan bisa bersaing dengan orang untuk mengejar cita-cita kamu, kamu akan ketinggalannya jauh dari mereka !!! tutur panjang dari ayahku , apa yang aku tebak ternyata tak meleset. Namun, entah mengapa aku tetap saja membela diri "aku cuma kecapaian dan sekarang aku lagi berpuasa cuma karena itu kok aku pingsan". ayahku diam tak menjawab lagi.

tiba-tiba mobil berhenti di depan kedai buah. ayahku turun dan langsung menunjuk pepaya yang besar-besar dan segar , pilih yang mana ? aku menjawab "tidak usah yah" dan ibuku kemudian turun dan ikut memilih buah-buhan sambil menanyai keinginan aku apa. aku kurang menyukai pepaya , jadi aku pilih melon , jadi melon dan pepaya akhirnya dibeli. melaju lagi secara perlaha  dan berhenti di depan gerobak gorengan "mau gorengan ?" tanya ayahku. aku langsung menjawab "tidak usah". "ihh , kamu itu susah sekali di suruh makan , dikasih ini tidak mau , dikasih itu juga tidak mau, jadi maunya apa ?" ayahku sudah kelihatan kesal karena bingung bagaimana mau bikin aku makan. akhirnya gorengan pun dibeli atas request adik-adikku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Psikoanalisis - Sigmund Freud

MIMPI AKAN MENJADI NYATA

SURAT UNTUK IBU DAN AYAH