Teori Psikoanalisis - Sigmund Freud
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pengasuhan adalah pengetahuan,
pengalaman, keahlian dalam melakukan pemeliharaan, perlindungan pemberian kasih
sayang, dan pengarah kepada anak. pengasuhan adalah saat dimana orang tua
memberikan sumber daya paling dasar kepada anak, pemenuhan kebutuhan anak,
kasih sayng,memberikan perhatian, dan mengajarkan niali-nilai kebaikan kepada
anak. Oleh karena itu, pengasuhan merupakan suatu proses yang panjang dalam
kehidupan anak dan pengasuhnya mulai dari masa prenatal hingga dewasa.
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund
Freud (1856-1939). Psikoanalisis mulai diperkenalkan oleh Freud pada buku
pertamanya yaitu penafsiran atas mimpi (Dream Interpretation) pada tahun
1900.
Berdasarakan terori psikoanalisi yang
dicetuskan oleh Sigmund Frued yang menyatakan bahwa keadaan jiwa dan pikiran
seseorang dapat memengaruhi perilaku, sedangkan keadaan jiwa dan pikiran
seseorang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya, menunjukkan bahwa tahap
perkembangan awal anak merupakan tahapan yang penting untuk menentukan perilaku
masa depan anaknya, sehingga dalam hal ini orang tua merupakan penanggung jawab
utama bagi perkembangan pskilogis anaknya.
Istilah psikoanalisa mula-mula hanya digunakan pada
hal-hal yang berhubungan dengan Freud saja, sehingga psikoanalisis dan
psikoanalisis freud memiliki arti yang sama. Hal ini disebabkan karena
murid-murid freud yang mengembangkan teori psikoanalisis baik yang sejalan
maupun tidak, pada umumnya menggunakan istilah atau menggunakan nama yang
berbeda untuk menunjukkan identitas ajaran mereka. Seperti Carl Gustav Jung dan
Alfred Adler yang menciptakan psikologi analitis (analytical psychology)
dan psikologi individual (individual psychology). Namun sejak
psikoanalisis menjadi mode yang tersebar luas, istilah psikoanalisis banyak
digunakan tidak saja pada hal-hal yang bersangkutan dengan Freud. Sampai akhir
abad ke-19, ilmu kedokteran berpendapat bahwa semua gangguan psikis berasal
dari salah satu kerusakan organis dalam otak. Belum banyak ilmuan yang meneliti
area afektif yang menyebabkan gangguan psikis. Psikoanalisis merupakan salah
satu factor yang memberikan pengaruh dalam mengubah pendapat tentang penyebab
gangguan psikis. Freud salah satu tokoh dalam disiplin ilmu kepribadian yang melahirkan
teori-teori dikarenakan pengalaman pribadinya semasa kecil. Teori yang
dikembangkannya itu menjadi kontroversi diantara beberapa ahli lainnya. Namun
begitu, pemikiran Freud ini juga banyak menjadi dasar teori kepribadian
selanjutnya. Freud dipandang sebagai teoretis psikologi pertama yang
memfokuskan perhatiannya kepada perkembangan kepribadian.
Tahapan perkembangan berdasarkan
perkembangan usia terhadap tahap pola perilaku seseorang dibedakan menjadi
beberapa periode yaitu mulai periode oral (0-1 tahun), periode anal (1-3
tahun), periode phalic (3-5 tahun),,
periode latency (6-11 tahun), dan
periode genital (remaja). Menurut freud, pengalaman yan terjadi pada tiap
periode akan menentukan keberhasilan periode selanjutnya.
Adanya perkembangan khusus yang
terjadi disetiap tahap perkembangan usia anak, menunjukkan bahwa terdapat tugas
perkembangan yang harus dicapai oleh anak disetiap periode perkembangannya.
Dalam hal ini orang tua sebagai pengasuh dan orang yang dianggap paling dekat
dengan anak mempunyai peran besar dalam membantu anak untuk mencapai tugas
perkembangan tersebut. Untuk mencapai tugas perkembangan anaknya dengan baik,
orang tua harus mengetahui dan memahami dengan baik dan benar tugas
perkembangan anaknya disetiap periodenya. Setelah mengetahu tugas perkembangan
anaknya, orang tua harus mampu mengidentifikasi hal-hal kritis yang harus
diberikan kepada anaknya disetiap periode perkembangnnya. Selanjutnya, orang
tua harus mampu memberikan dengan tepat hal-hal kritis yang harus didaptkan
oleh anak pada setiap periodenya, dan yan terakhir orang tua harus mampu
memahami kebutuhan anaknya.
B. Tujuan
1) Mengetahui tokoh yang mencetuskan teori tersebut.
2) Mengetahui asumsi dan prinsip dasar teori tersebut.
3) Mengetahui apa yang harus dipahami dan dilakukan oleh
orang tua dalam berinteraksi dengan anaknya berdasarkan teori tersebut.
PEMBAHASAN
Ø Tokoh yang mencetuskan teori
Psikoanalisis
Sigmund
Freud dilahirkan pada tanggal 6 mei 1856 di Freiberg ( saat ini bernama Czech
Republik) dan meninggal dunia pada tangga 23 September 1939, di London. Pada
tahun 1873, Freud masuk Fakultas Kedokteran Universitas Vienna, dan pada tahun
1881 dia lulus sebagai dokter dengan yusidium “summa cum laude”. Setelah ia
menamatkan kuliahnya, Freud bergabung dengan salah satu laboratorium psikologis
terkenal di Jerman yakni miliki Ernest Bruke. Pada tahun yang sama, Freud
menjadi salah seorang praktisi kesehatan (dokter) yang berafiliasi dengan Rumah
Sakit Umum Viena dan secara khusus menangani masalah kecemasan (nervous
diseases) dan menjadi pengajar dalam bidang Neuropathology.
Ø
Asumsi
dan prinsip dasar teori psikoanalisis
1.
Tahap
oral
Berlangsung
dari usia 0 – 18 bulan, titik kenikmatan terletak pada mulut, dimana aktivitas
paling utama adalah menghisap dan mengigit. Hal ini yang menimbulkan kepuasan
atau kesenangan. Menurut freud objek paling pertama mendatangkan kepuasan
adalah buah dada ibu atau botol susu. Freud yakin bahwa individu, yang fase
oralnya memperoleh perangsang oral yang berlebih atau sangat kekurangan di masa
dewasanya akan memiliki kepribadian oral-passive dengan ciri – ciri karakter
seperti pasif, kurang matang, dan dependen.
2.
Tahap
Anal
Berlangsung
dari usia 18 bulan – 3 atau 4 tahun, titik keknimatanya terletak pada anus.
pada fase ini anak sudah mulai diperkenalkan kepada aturan – aturan kebersihan
oleh orang tuanya melalui latihan mengenai bagaimana dan dimana seharusnya
seorang anak membuang kotorannya, atau mengenalkan toilet training.
3.
Tahap
Phallic
Berlangsung
antara 3 tahun – 6 atau 7 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah alat
kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi. Menurut freud
anak secara tidak sadar memiliki keinginan untuk dicintai orang tua yang
berlawanan jenis dengan dia, dan pada saat yang sama meniru orang tua yang
berjenis sama agar mendapat perhatian dari orang tua yang berlawanan jenis
dengannya.
4.
Tahap
Laten
Berlangsung
dari 5, 6, atau 7 tahun sampai usia pubertas ( 12 tahun). Dalam tahap ini Freud
yakin bahwa rangsangan – rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa demi proses
belajar. Pada fase ini sampai pubertas aktivitas seksual berkurang, dan energi
libidal disalurkan ke dalam aktivitas – aktivitas yang lain seperti belajar,
olah raga, atau berteman dsb. Periode ini bisa dilihat sebagai periode
persiapan bagi perkemabangan psikoseksual fase berikutnya, serta pada periode
ini anak mulai melakukan perbandingan seksual.
5.
Tahap
Genital
Dimulai
pada usia pubertas, ketika dorongan seksual sangat terlihat jelas pada diri
remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual. Masturbasi,
seks oral, homoseksual, dan kecenderungan – kecenderungan seksual lain yang
kita anggap biasa saat ini, tidak dianggap. Dalam teori psikoanalisis, karakter
genital mengiktisarkan tipe ideal dari kepribadian, yakni terdapat pada orang
yang mampu mengembangkan relasi seksual yang matang dan bertanggungjawab, serta
mampu memperoleh kepuasan dari pasangan heteroseksual.
Ø Hal yang harus dipahami dan dilakukan oleh orang tua
dalam berinteraksi dengan anaknya pada setiap tahapan perkembangan menurut
teori Psikoseksual dari Freud.
1. Periode oral (0-1 tahun)
Fase
oral merupakan fase yang paling awal pada perkembangan psikoseksual seseorang
dikarenakan sejak lahir alat yang paling penting memberi kenikmatan pada bayi
adalah mulutnya sendiri. Hal ini disebabkan karena melalui mulutnya ia dapat
berhubungan dengan alat tubuh yang dapat memberi kenikmatan yaitu payudara Ibu.
Apabila sumber kenikmatan yang pokok ini tidak terpenuhi, maka bayi akan
mencari kepuasan dengan mengisap jempol atau benda lainnya. Bayi akan
menelannya apabila yang ada dalam mulut menyenangkan dan akan menyemburkan apabila
yang ada dalam mulutnya dia rasakan tidak menyenangkan. Minat mulut untuk
memenuhi kepuasan ini tidak akan pernah lenyap walaupun si anak telah tumbuh
menjadi orang dewasa.
Menurut Freud hal ini dapat dilihat
pada banyak orang dewasa yang gemar menghisap rokok dan berciuman. Kesulitan
yang dialami oleh bayi pada fase oral akan megakibatkan energi libidinal
terpusat pada fase ini dan individu akan kekurangan energi untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan yang muncul pada fase-fase berikutnya.
Berdasarkan teori Freud ini orang tua
dapat membuat strategi untuk membantu anaknya melewati tahapan ini dengan baik
dengan cara ibu memberikan asi ekslusif
selama 6 bulan kepada bayi sehingga kenikmatan oral bayi pada periode
ini terpenuhi. Pada fase ini anak
menjadi penjelajah kecil dan memasukkan semua benda ke dalam mulut. Oleh
karena itu, orang tua harus mampu memberikan barang-barang yang bersih dan
tidak membahayakan bayi.
2.
Kedua,
Fase anal (1 – 3 th).
Fase
ini fokus dari energi libidinal dialihkan dari mulut ke daerah dubur serta
kesenangan atau kepuasan diperoleh dalam kaitannya dengan tindakan mempermainkan
atau menahan feces. Mulai dari fase ini, anak akan mendapat pengalaman untuk
yang pertama tentang pengaturan impuls-impulsnya dari luar. Anak harus belajar
menunda kenikmatan yang timbul dari defekasi (bebaskan diri). Sedangkan
pengaruh yang akan diterima anak dalam pembiasaan akan Iibid, kebersihan ini dapat mempunyai
pengaruh yang besar pada sifat-sifat kepribadian anak dikemudian hari.
Apabila
sang ibu besikap keras dan menahan anak mungkin juga menahan fecesnya. Jika
reaksi ini meluas kelain-lain hal maka anak dapat mempunyai sikap kurang bebas,
kurang berani, tertekan dan lain-lain. Tetapi beda jika ibu bersikap membimbing
dengan penuh kasih sayang dan memuji apabila anak devekasi maka anak mungkin
memperoleh pengertian bahwa memproduksi feces merupakan aktifitas penting.
Pengertian ini akan menjadi dasar daripada kreaitifitas dan produksifitas. Hal
terpenting pada fase ini adalah anak memperoleh rasa memiliki kekuatan,
kemandirian dan otonomi.
Jika orang tua berbuat terlalu banyak
bagi anaknya ini berarti bahwa si orang tua mengajari anaknya untuk tidak
memiliki kesanggupan menjalankan fungsi diri. Jadi pada fase anal ini anak
perlu bereksperimen, berbuat salah atau merasa bahwa mereka tetap diterima
untuk kesalahannya itu dan menyadari diri sebagai individu yang terpisah dan
mandiri.
3. Ketiga, Fase falik (3-5 th).
Pada fase falik ini yang menjadi pusat
perhatian adalah perkembangan seksual dan rasa agresi serta fungsi alat-alat
kelamin. Kenikmatan masturbasi mengalami peningkatan serta khayalan yang
menyertai aktifitas otoerotik sangat
penting. Anak menjadi lebih ingin tahu tentang tubuhnya. Mereka berhasrat untuk
mengeksplorasi tubuh sendiri dan menemukan perbedaan-perbedaan diantara kedua
jenis kelamin. Fase falik merupakan periode perkemabangn hati nurani, suatu
masa ketika anak belajar mengenal standar moral dan bahaya yang kritis adalah
indoktrinasi standar-standar moral yang kaku dan realistis dari orang tua yang
bisa mengarah pada pengendalian superego secara berlebihan sehingga mematuhi
moral tetapi hanya karena takut. Efek-efek lainnya adalah konflik-konflik yang
kuat, perasaan bedosa, penuh sesal, rendahnya rasa harga diri dan penghukuman
diri. Pada fase falik ini ada oedipus complex dan electra complex. Kompleks
Oedipus merupakan keinginan anak laki-laki yang terarah pada ibunya sendiri.
Sedagkan permusuhan dilontarkan pada ayah yang dianggap sebagai saingannya.
Electra complex ini kebalikan dari kompleks Oedipus, jadi electra complex ini
pada anak perempuan.
Agar perkembangan anak pada tahap ini dapat berjalan
dengan baik, tidak mengalami hambatan, maka sebaiknya orang tua memperhatikan
hal-hal berikut:
a. Orang
tua memelihara keharmonisan keluarga.
b. Ibu
memerankan dirinya sebagai seorang feminim, bersikap ramah, gembira, dan memberikan kasih sayang.
c. Ayah
mampu memerankan dirinya sebagai figure yang menerapkan prinsip realitas dalam
menghadapi segala masalah hidup, tanpa melarikan diri dari masalah atau
bertindak berlebih-lebihan.
d. Ayah
dan ibu memiliki komitmen yang tinggi dalam mengamalkan nilai-nilai agama yang
dianutnya.
e. Ayah
bersikap demokratis, penuh perhatian, akrab dengan anak dan tidak munafik
4.
Fase
latensi (5 – 12 th).
Fase latensi disebut juga periode
teduh. Suatu periode yang cukup panjang yang berlangsung sampai masa pubertas.
Sepanjang periode ini aktifitas libidinal berkurang dan kita dapat mengamati
suatu deseksualitas dalam pergaulan dengan orang lain dan dalam hidup emosional
si anak. Dari sini mulai terbentuk rasa malu dan aspirasi-aspirasi moral serta
estetis. Rupanya perkembangan psikoseksual dari tahun pertama sama sekali
dilupakan seolah-olah ada aktifitas seksual. Fase ini biasanya pada anak usia
tujuh, delapan tahun sampai ia menginjak remaja.
Tahap ini dipandang sebagai masa
perluasan kontak sosial dengan orang-orang di luar keluarganya. Oleh karena itu
proses identifikasi pun mengalami perluasan atau pengalihan objek. Yang semula
objek identifikasi anak adalah orang tua, sekarang meluas kepada guru,
tokoh-tokoh sejarah, atau para bintang (seperti film, musik, dan olah raga).
Karenanya pada masa ini orang tua harus mengawasi anaknya agar tidak meniru
atau mencontoh orang yang salah. Tetapi bukan berarti orang tua harus mengekang
anak dengan tidak bersosialisasi dengan yang lain. Selain itu sebaiknya orang
tua tahu dengan siapa anaknya bergaul. Orang tua dapat mengajak teman-teman
anaknya ke rumah agar mengenal lebih dalam perilaku mereka.
5.
Fase
genital
Fase ini dimulai pada masa remaja
(>12tahun), dimana segala kepuasan terpusat pada alat kelamin. Karakter
genital mengiktisarkan tipe ideal dari kepribadian yakni terdapat pada orang
yang mampu mengembangkan retasi seksual yang matang dan bertanggung jawab serta
mampu memperoleh kepuasan dari percintaan heteroseksual. Untuk memperoleh
karakter genital ini individu haruslah terbebas dari ketidakpuasan dan hambatan
pada anak-anak. Pengalaman-pengalaman traumatik dimasa anak-anak atau mengalami
fiksasi libido maka penyesuaian selama fase genital akan sulit.
Selain itu, pada tahap ini anak mulai mengembangkan motif untuk mencintai orang
lain atau mulai berkembangnya motif altruis (keinginan untuk
memperhatikan kepentingan orang lain).
Motif-motif ini mendorong anak (remaja) untuk
berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dan persiapan untuk memasuki dunia
kerja, pernikahan dan berkeluarga. Masa ini ditandai dengan proses pengalihan
perhatian, dari mencari kepuasan atau kenikmatan sendiri (yang bersifat
kekanak-kanakan atau selfish) kepada kehidupan sosial orang dewasa dan
berorientasi kepada kenyataan (prinsip realitas) atau sikap altruis.
(Tugas Parenting IKK)
key word : sigmund freaud, psikoanalisis
thanks blog nya sangat bermanfaat
BalasHapusMy blog