--TERSENTUH--

"Bismillahirrohmaanirrohiim..." sebuah tangan menyentuh lututku dan aku berhenti membaca. "mulailah dengan ta'awudz terlebih dahulu, membaca ta'awudz saat memulai tilawah hukumnya sunnah :)" tutur lembut ustadzahku yang sungguh sabar mengajari para santrinya.

Malam itu merupakan malam kedua aku mulai muroja'ah hafalan setelah menuntaskan tahsin dan bacaan ghorib. Hafalan yang kumiliki memang masih sedikit bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan hafalan yang dimiliki oleh teman-teman seperjuanganku di Rumah Qur'an ini. Jujur saja, ada rasa sedih dan malu karena tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik, lucunya untuk menyikapi perasaan ini justru aku bilang secara terang-terang didepan teman-teman bahwa aku memiliki hafalan yang sedikit, reaksi dari teman-teman pun bilang "Semangat" !!.

Malam itu, aku meminta izin kepada ustadzah untuk menginap di Rumah Sakit karena teman alumni SMA ku sedang diuji kesehatannya, dia harus berbaring dan bermalam di rumah sakit karena keluhan pusing, muntah dan  diare. Penyakitnya belum diketahui karena saat itu, hasil diagnosanya belum keluar. Hanya itu keterangan yang ku berikan kepada ustadzah. Beliau menjawab "apakah tidak ada teman yang lain untuk menjaganya ?. Sehari sebelum malam itu, aku sudah berjanji akan menginap disana untuk menggantikan temaku yang sebelumnya sudah mengnjaganya us (tuturku). Lalu ustadzah diam sejenak seperti sedang mempertimbangkan. "Oke, diperbolehkan ! namun, sebelumnya kamu harus talaqqi dulu yaa. Mendengar penjelasan tersebut, aku langsung bergegas untuk segera talaqqi.
Saat tubuh ini sudah didepan ustadzah, dan mulai membaca ustadzah baru ingat ternyata malam itu aku muroja'ah. Malam itu, surat yang kuulangi adalah Q.S Al-Lahab, An-Nashr, dan Al-Kafiruun. Sebelumnya, memang aku tidak belajar atau membacanya terlebih dahulu sehingga malam itu yang kutampilkan tidak ada bedanya dengan malam sebelumnya tidak ada perubahan bahkan malam itu kesalahan bacaanku dimulai dari ta'awudz. Evaluasi kesalahan dari bacaanku kebanyakan adalah bagian Makhorijul huruf. Huruf Ro (Tarqiq) dan Ro (Tafkhim) yang kemudian diikuti dengan huruf Ha merupakan sumber kesalahan dari bacaanku. Lebih dari 3x ustadzah memberikan contoh dan mengajari pengucapan lafal Ro dan Ha, aku pun berusaha untuk memahami dan meniru pelafalan yang benar. Suasanan malam itu sangat hening, suara teman-teman tidak terdengar ramai sehingga, suaraku belajar melafalkan huruf ro dan ha sangat terdengar lantang. Ada perasaan aneh yang timbul, rasa malu karena ternyata untuk pelafalan huruf yang benar saja aku belum mampu.Miris sekali rasanya, sedih melihat diriku. Bacaanku terus diulang dan diulang hingga akhirnya ustadzah memutuskanku untuk talaqqi ketiga surat itu terlebih dahulu. Setelahnya beliau memfokuskanku kepada pelafalan huruf ro, ha dan da. Entah mengapa hati dan fikiranku malam itu terasa tersentuh dengan kerja keras ustadzahku dalam membantuku belajar. Ustadzah, maaf yaa aku bikin susah (tuturku yang merasa tidak tega melihat ustadzah harus menjelaskan dengan usaha yang keras), akhirnya aku berusaha untuk myelesaikan pertemuan itu dengan lebih cepat, aku menunjukkan perilaku yang seperti ingin cepat-cepat menyudahkannya. Namun, ustadzahku tetap memberikanku kesempatan dan mengajariku. Disinilah sanubariku tersentuh dan aku mendapatkan jawaban dari apa yang selama ini membuat diriku tidak mau belajar dengan giat. Pertemuan malam itu, menyadarkanku bahwa bacaanku masih sangat kurang baik dan harus dibetulkan. Kerja keras ustadzahku dan penjelasannya yang menurutku dapat kuterima dan sesuai dengan jalan fikiranku yang kurasa dapat menyadarkanku. Saat membaca pun aku berusaha untuk menahan air mata. Aku rindu masa-masa SD saat aku mulai belajar membaca Al-qur'an, saat dimana aku tidak mengetahui apa-apa dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang kuat, iya, aku inget dulu aku tipe orang yang semangat belajar dengan rasa ingin tahu yang tinggi.That's right, aku rindu masa itu dan malam ini menyadarkan ku atas ingatan masa lalu yang indah ini.
Tak lama dari itu, ustadzah menyudahi pertemuan malam itu dan aku kembali diingatkan untuk latihan dan belajar. Beliau menyudahi dengan cepat karena malam itu aku harus ke Rumah Sakit sebelum jam 21.00 atau mungkin karena beliau melihat mataku berlinang entahlah.

Aku melangkah dengan langkah kaki yang lebar dan irama yang cepat disepanjang jalan menuju angkot aku membiarkan air mataku tetap berlinang dan sesekali tersenyum bahagia. Malam itu, aku menangis bahagia sambil mengingat masa lalu.

Belajar - yakin - ikhlas- semangat !!!!
21-12-2015


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Psikoanalisis - Sigmund Freud

MIMPI AKAN MENJADI NYATA

SURAT UNTUK IBU DAN AYAH