MASA KECILKU
Assalammualaikum wr. Wb.
Haii semuaa. ....
Kenalin
panggil aku Neng Ae yaa. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Semua saudaraku
perempuan loh dan diataranya ada yang kembar. Aku dilahirkan dari orang tua
yang sangat menyanggiku hingga sekarang. Neng di besarkan dalam keluarga yang
sederhana. Ayah neng bekerja sebagai guru SD sedangkan Ibu Neng dahulunya juga
menjadi guru honor di SD tapi berhenti bekerja dan ayah menginginkan Ibu untuk
fokus mengurus kami. Namun, seiring berjalannya waktu, Ibu bekerja karena
tuntutan ekonomi. Jadi, pekerjaan ibu Neng sekarang adalah petani karet.
Neng tinggal
di sebuah desa yang masih banyak terdapat kebun karet dan sawit. Tahukah teman,
banyak hal unik yang menemani perjalanan Neng di tanah pertiwi ini.
Sebelumnya,
Neng kasih gambaran dulu terkait desa Neng ya. Jadi Desa Neng itu masih
terdapat hutan dan sungai yang setiap saat menjadi sumber kehidupan
sehari-hari. Orang tua di Desa Neng rata-rata bekerja sebagai petani karet dan
sisanya sebagai petani sawit. Hampir disepanjang perjalanan menuju ke desa Neng
adalah pohon sawit dan karet. Sepanjang perjalanan kehidupan Desa Neng ini
sering mengalami kebanjiran ataupun kekeringan. Saat musim hujan tiba,
pepohonan akan terlihat sangat hijau dan sejuk. Semua tumbuhan tumbuh nan
subur. Namun, seringkali jika musim hujan berlalu dengan lama, sunga-sungai
yang tenang menjadi melimpah dan mengganangi kebun-kebun, jalanan bahkan
rumah-rumah penduduk yang didekat sungai. Dan kalau musim panas datang dan berlalu
dengan lama, jalanan yang belum diaspal akan sangat berdebu, dedauan pohon juga
akan terlihat sangat kering. Kedua hal ini, akan sangat mempengaruhi aktivitas
keluarga dalam mencari nafkah karena kebun karet sangat bergantung kepada musim
ketika musim hujan maka petani tidak akan bisa menyadap karet karena karetnya
basah, sedangkan saat musim kemarau getah karet keluarnya sangat sedikit.
Namun, dibalik
kesulitan ada kemudahan. Hee. Semua pasti ada hikmahnya. Saat musim hujan tiba
penduduk desa akan berbondong-bondong ke lokasi banjir yaitu di pinggir desa
tepat di perbatasan desa. Disana terdapat sungai yang jika terjadi hujan lebat
pasti mengalami kebanjiran. Penduduk akan mulai membawa peralata untuk
menangkap ikan sepeti TANGKUL dan berdiam lam-lama sembari mengobrol dengan
para penonton. Selain itu, bagi bapak-bapak yang meimiliki motor hal ini
menjadi kesempatan untuk mencuci motor.
![]() |
| NANGKUL taken by : Septa. Sumber : Fb: Yosi Apriani |
Lokasi lain
yang tergenang banjir seperti di Ume yang memiliki sungai bernama “AIR SIMPUH”.
Air simpuh ini adalah mata air yang ada di tengah sawah kering dan cukup untuk
menjadi pemandian kira-kira hanya 3-4 orang. Namun, ketika musim hujan juga
sering terjadi banjir dan meluas hingga terlihat seperti sungai seperti
umumnya. Nah, inilah yang mnjadi ladang bermainny anak-anak. Anak-anak sepulang
sekolah akan mulai berdatangan dan berenang di sungai ini. Berjam-jam kadang
sampai sore hari. Karena bagi anak-anak saat itu, sungai ini seperti daratan
yang mnajdi lahan bermain. Permainan yang biasa dimainkan ditaranya “SALAM
SUHUK” yaitu menyelam sampai tidak terlihat dan menangkap lawan dari dalam air.
Kemudian ada lagi main “jaga-jaga” seperti kurang lebih kalau di daratan
nanmanya bermain “BENTENG”. Permainan selanjutnya adalah lomba renang, lomba berlamaan
dalam menyelam dan terakhir bermain seperti kehidupan sehari-hari seperti main
masak-masakan, belanja dll. dari segala permainan itu, Neng ngerasa jago dalam
permainan berlmaan dalam menyelam karena menurut Neng ini tidak harus berperang
sehingga tidak terlalu berisiko jika dibandingkan permainan yang lainnya. Sebab
Neng tidak telalu pandai dalam berenang. Berbeda dengan teman-teman Neng yang
pandai berenang. Jadi, hampir semua anak yang ada di Desa Neng ini bisa
berenang J.
![]() |
| goggle |
Di daratan, jika
sedang musim hujan, biasanya tanaman tumbuh dengan suburnya, sepulang dari
bermain di sungai perjalanan pulang pasti melewati hutan yang terdapat tanaman
yang bisa dimakan seperti “BUAH KARAMUNTENG” buahnya hijau dan kelopaknya indah
seperti kelopak bunga yang sering digambar saat SD ukurannya kecil dan rasanya
sangat manis. Mencari tanaman ini di tengah hutan bagi Neng cukup sulit sih,
tapi teman-teman Neng tampak mudah sekali mendapatkan buah ini. Hingga, kalau
kita lomba mencari buah ini, Nneg selalu kalah. Selain BUAH KARAMUNTENG, ada
juga buah berwarna putih yang bergugus-gusus seperti anggur namun bedanya buah
ini kecil dan langsung menempel dengan buah lainnya tidak bertangkai. Buah ini
hanya ada saat musim penghujan saja. Perburuan buah-buah hutan sangat mengasyikkan
walaupun setelahnya tak jarang disekujur kaki dan tangan terdapat
bentolan-bentolan karena digigit nyamuk dan tergores tumbuhan yang tajam. Hehe tapi
karena sudah kebal dan sering sakit dan perihnya tidak terasa.
Lalu, saat
musim kemarau tiba, lahan tempat bermain anak-anak yaitu sungai AIR RAMBANG. Dimana
sungai ini merupakan sungai yang sangat luas dan panjang sampai ke kecamatan
LUBAI. Saat musim hujan sungai ini tidak ditangi penduduk karena berbahaya. Selain
sungainya menghanyutkan juga dalam. Namu, saat musim kemarau yang menjadi
sumber perairan penduduk adalah sungai RAMBANG ini. Sungai ini pun menjadi
ladang bermainnya anak-anak. bedanya dengan sungai yang sudah diceritakan,
sungai ini merupakan sumber pengerukan pasir. Sumber pasir yang dijadikan untuk
bahan membuat rumah biasnya diambil dari sungai ini. Saat musim kemarau tiba,
banyak aktivitas yang terjadi disini dan semuanya berbaur menajdi satu. Anak-anak
yang bermain dengan pasir dan air, Ibu yang sibuk mencuci perabotan rumah dan
pakaian dan bapak-bapak yang sibuk mengangkut pasir hasil kerukannya
sebelumnya. Pemandangan ini sangat langka terjadi di era sekarang.
Selain itu,
biasanya Neng juga suka pergi ke UME punya temen Neng. Disana, ditanamani
padi-padian kering, sayuran dan tidak lupa tanaman pokok yaitu karet. Jadi, di
tempat Neng, untuk membuka lahan karet biasnya dilakukan dengan menebang
pohon-pohon karet dan biasnya Ibu-ibu mulai berbondong mengambil kayu untuk
dijadikan bahak bakar di rumah. Di Desa Neng masih terdapat rumah yang belum
menggunakan kompor minyak ataupun gas alias masih manual menggunakan kayu
bakar. Terlebih jka ada hajatan, semua menggunakan proses masak manual dengan
kayu bakar yang dikerjakan oleh Ibu-ibu hampir sekampung sangat berbeda jika
dibanding jaman sekarang yang sudah ada layanan “CATERING”. Selanjutnya,
setelah beberpa ppohon ditebang akan dilanjutkan proses membakar hutan yang
bertujuan untuk menyuburkan tanah kembali. Lalu setelahnya baru ditanamai
karet. Tanaman karet ini sangat disenangi oleh babi dan binatang hutan lainnya
sehingga biasanya penduduk di desa serambi menunggu pohon karet besar, penduduk
juga menanaminya dengan tanaman seperti padi (sawah) dan sayur-mayur (aingking,
terong, kembili, cabe dll). penduduk tinggal di UME dari awal nanam padi hingga
panen padi dan biasanya dibuatlah sebuah gubuk yang kokoh. Uniknya, di dekat
lahan ini pasti terdapat mata air (sungai keccil) sebagai sumber kehidupan
disana. Dan tahukah kalian ? di sungai kecil ini ternyata menyimpan ikan, udang
dan ketam sebagai sumber untuk makan ataupun terkadang dijual. Neng pernah
diajak main ke UME teman Neng ini. Saat itu, kita membawa tanggok dan mencari
udang di mata sungai kecil itu. Sungai kecil itu jernihhh sekali. Kira-kira
sekitar 4 jam berada dalam air mencari udang dan ikan pehek akhirnya hasilnya
pun lumayan bisa untuk sekali masak (hehe) berlum terlalu berpengalaman. Lalu tak
lupa kita juga memetik daun singkong.
Hal yang
istimewa selain dapat memetik langsung sayuran dari lahan dan mendapatkan
udang, ikan langsung dari air adalah makan di UME. Makan di UME ini memiliki
kenikmatan tersendiri. Masakan di masak dengan manual di tungku dengan kayu
bakar lalu di makan sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi pemandangan nan
hijau terbentang sawah dan kicauan burung. Dengan penuh syukur makan di UME
sangatlah nikmat sekali walaupun tidak ada lauknya.
Perjalanan dari
Desa menuju UME biasanya kami (anak-anak) menemouhnya dengan bersepeda dengan
melewati tanjakan dan turunan di dalam hutan karet. Sesampainya di rumah dengan
gembiranya kami memberikan hasil tangkapan dan petikan sayur-mayur untuk di
masak oleh ibu di dapur. Sungguh pengalaman yang sangt menyenangkan sekali.
Begitulah masa
kecil yang Neng lalui. Neng tidak mengenyam pendidikan TK yang biasanya kata
teman-teman keceriannya mereka dapatkan di bangku TK. Neng sangat bersyukur
dengan nikmat yang diberikan oleh yang Tuhan Maha Kuasa. Maka nikmat Tuhanmu
yang manakah yang kamu dustakan ? (Q.S Ar-rahman;13)
Ini masa
kecilku, mana masa kecilmu ?


Lindaaaa :')
BalasHapuswkwkw , mana ceritamu ?
BalasHapusBahasenye kece, wkwk
BalasHapus