SPESIAL RAMADHAN
BELAJAR BERPUASA
Coba, kapan pertama kali kamu belajar berpuasa ? Hemm, kayanya aku sih SD atau sebelum SD ya tepatnya aku kurang tahu deh. Lalu, gimana kamu belajar berpuasa ?
Pertama kali aku
belajar berpuasa kemungkinan waktu SD atau sebelumnya. Saat itu, aku belum
banyak mengerti apa itu puasa, bagaimana niatnya dll. Aku hanya mengikuti alur
saja. Orang tua ku tidak spesifik mengajarkan aku cara berpuasa. Bahkan, aku
sendiri yang pertama kali bertanya tentang puasa kepada orang tuaku baru mereka
menjelaskannya. Aku mendapatakan rasa ingin tahu karena lingkunganku.
Lingkungan di
tempat ku tinggal saat Ramadhan tiba keadannya menjadi ramai. Ada penambahan
penduduk dari biasanya, karena saat ramadhan tiba kakak-kakak yang merantau
biasanya pada pulang ke rumah. Selain itu, Masjid menjadi ramai, pada hari
biasa sangat jarang ada yang mengumandnagkan azan. Namun, saat ramadhan tiba,
masjid layaknya menjadi tempat favorit yang dikunjungi untuk sholat tarawih,
sholat subuh dan mengaji di sore hari.
Dini hari yang
biasanya masih sangat sepi menjadi ramai karena ada yang berkeliling untuk membangunkan
sahu-sahur-sahur. Lalu, dihari pertama kali puasa, anak-anak hingga remaja
melakukan jalan-jalan pagi dari ujung desa hingga ke ujung desa. Anak-anak
berjalan sambil bercengkerama dengan teman-temannya. Keceriaan yang tergambar
layaknya senang karena tidak harus sekolah. Bunyi-bunyian percon dan kembang
api menambah keramainan di bulan ramadhan ini.
Aku bersyukur masih
sempat merasakan semua hal diatas. Aku pernah sengaja bangun dini hari hanya
untuk meihat orang-orang yang berkeliling meneriakkan sahur. Tampilannya adalah
dengan sebuah mobil pick up yang di dalamnya terdapat beberapa orang laki-laki
dewasa menabuhkan beduk, dan membawa obor sambil meneriakkan sahu-sahur-sahur.
Pengajian memang
sudah ada setiap hari tidak harus saat ramadhan tiba. Namun, kalau untuk shalat
tarawih merupak bagian spesialnya di bulan ramadhan. Aku pun pernah merasakan
sholat tarawih dengan tujuan hanya untuk bermain-main dan mengisi buku bulan
ramadhan yang ditugaskan dari sekolah. Iya, untuk anak-anak SD seumuranku saat
itu, momen shalat tarawih merupakan momen bagi kami untuk bermain dan makan mie
mentah bersama teman. Kami sering kali mengacaukan pelaksanaan shalat tarawih
dengan main kejar-kejaran, teriak-teriak, tertawa, memainkan percon dll. Tak
jarang kami di tegur oleh orang tua disana, bahkan pernah imam berhenti sejenak
dan menegur kami. Tapi, layaknya anak-anak yang masih polos dan lugunya kami
hanya berhenti saat ditegur dan mulai lagi saat mereka sudah shalat kembali
lalu pura-pura shalat saat sudah memasuki tahyatul akhir. Betapa nakalnya kami
dulu.
Aku juga pernah
ikut berjalan di pagi hari dengan komplotan teman kecilku. Menghirup udara
segar di pagi hari. Berkumpul bersama teman dan bertemu dengan beberapa orang
yang belum dikenali. Sangat menyenangkan.Namun, bagian yang sangat
menjengkelkan saat kelompok anak laki-laki bermain percon dan melemparkannya
kepada kerumunan anak-anak perempuan. I very Angry with them. Lalu, aku pun
pernah berpura-pura puasa di depan teman-temanku.
Haha, yah itulah sekelumit perjalananku hingga akhirnya aku menanyakan kepada ayah, puasa itu apa sih ? Bagaimana niatnya ?.
Ayah menjawab : Puasa merupakan kewajiban bagi seorang muslim, kan puasa menjadi bagian dari rukum islam. kalau puasa itu artinya kita tidak diperbolehkan makan, minum dan harus melaksanakan shalat lima waktu. Niatnya (Nawaitu Shauma Ghodin Fardisyahri Ramadhana Hadzihi Sanati Lillahita'ala) aku niat berpuasa esok hari dibulan ramadhan fardhu karena Allah ta'ala.
Orang tuaku selalu
membangunkan saat sahur tiba walaupun aku tidak berpuasa. Disinilah aku banyak
bertanya tentang pertanyaan diatas kepada ayah. Ayah mengajariku melafadzkan
niat berpuasa dan kemudian aku mengikutinya. Hari-hari kemudian setiap kali
akan memulai makan sahur, ayah menyuruhku untuk memimpin membaca niat sahur.
Sangat senang rasanya. Sampai saat itu, aku hanya berpuasa hingga pukul 12.00
siang.
Sampai suatu
ketika, aku mulai tertantang untuk puasa full hingga sampai waktu maghrib.
Ayahku mulai membatasiku. Beliau menganggap bahwa aku belum kuat dan belum
waktunya untuk melaksanakan puasa full. Semakin dilarang akupun semakin
penasaran.
Mungkin
kebanyakan dari orang tua lainnya menginginkan ankanya berpuasa sejak dini,
tapi tidak dengan ayahku. Ayah tidak memaksakan anaknya untuk
berpuasa bahkan sering kali ayah menyuruhku untuk memecahkan puasa tepat
dipukul 12.00 (saat SD).
Reaksi
yang kutimbulkan kebalikan, aku tidak setuju dengan pendapat ayah, bahkan saat
ayah mengajakku makan disiang hari aku kabur. Tidak hanya itu, usaha lainya
supaya aku tidak berpuasa aku tidak dibangunkan sahur.
Tentu
saja kemudian aku sangat marah. Ekspresi yang kutimbulkan saat itu layaknya
seorang anak yang kena TANTRUM : menangis sejadi-jadinya, berguling sambil menangis
di lantai , di bawah kursi dll. Waktu itu ayah
hanya memberikan pengertian bahwa aku masih kecil sehingga puasanya cukup
setengah hari saja. Tapi aku merasakan bahwa ayah sangat khawatir dengan
kondisi fisikku. Iya katanya badanku kurus dan kecil jadi harus banyak makan.
Haha.Tapi, ternyata dari sini aku belajar berpuasa.
Aku
memiliki niat yang kuat untuk berpuasa sekalipun itu dilarang. Aku berusaha
bangun sendiri saat sahur dan menahan diri dari berbagai macam godaan maknaan.
Aku merasakan motivasi internal bukan karena iming-iming seperrti hadiah yang
biasanya oran tua persiapkan agar anaknya belajar berpuasa. Walaupun ayah
mengajari dengan cara yang antimainstream, tapi aku sungguh bersyukur ayah. :*
Sekarang aku
menyadari bahwa aku belajar berpuasa dipacu dari lingkungan sosial dan fisik
disekitarku, Kemudian orang tua ku yang membuat proses pembelajaranku menjadi
sangat bermakna. Hingga aku sangat suka berpuasa. Aku sangat suka bulan
Ramdhan.
Metode apapun bisa digunakan dalam mendidik anak yang terpenting adalah sesuai kebutuhan dan karakteristik anak. Mungkin cara yang orang tuaku pakai bisa manjur karena beliau mengetahui karakteristik anaknya :).
Bulan Ramadhan bulan penuh rahmat untuk membiasakan anak berpuasa, karena seisi alam mendukung. Bagi para orang tua ini ladang yang luas nih :).
Untuk adik-adik yang baru belajar puasa, memang awalnya sedikit berat menahan lapar, namun cukup dinikmati saja ya, puasa seru kok, banyak tantangannya malah. ga bakal nyesel pokoknya kalau nyoba puasa, insya allah ketagihan. hehe
Metode apapun bisa digunakan dalam mendidik anak yang terpenting adalah sesuai kebutuhan dan karakteristik anak. Mungkin cara yang orang tuaku pakai bisa manjur karena beliau mengetahui karakteristik anaknya :).
Bulan Ramadhan bulan penuh rahmat untuk membiasakan anak berpuasa, karena seisi alam mendukung. Bagi para orang tua ini ladang yang luas nih :).
Untuk adik-adik yang baru belajar puasa, memang awalnya sedikit berat menahan lapar, namun cukup dinikmati saja ya, puasa seru kok, banyak tantangannya malah. ga bakal nyesel pokoknya kalau nyoba puasa, insya allah ketagihan. hehe
Terima kasih Ayah :*
Rindu Ayah
Ramadhan 1437 H
Kota Hujan, 6 Januari 2016
Komentar
Posting Komentar