SPESIAL RAMADHAN

BELAJAR BERPUASA

Coba, kapan pertama kali kamu belajar berpuasa ? Hemm, kayanya aku sih SD atau sebelum SD ya tepatnya aku kurang tahu deh. Lalu, gimana kamu belajar berpuasa ?

Pertama kali aku belajar berpuasa kemungkinan waktu SD atau sebelumnya. Saat itu, aku belum banyak mengerti apa itu puasa, bagaimana niatnya dll. Aku hanya mengikuti alur saja. Orang tua ku tidak spesifik mengajarkan aku cara berpuasa. Bahkan, aku sendiri yang pertama kali bertanya tentang puasa kepada orang tuaku baru mereka menjelaskannya. Aku mendapatakan rasa ingin tahu karena lingkunganku.

Lingkungan di tempat ku tinggal saat Ramadhan tiba keadannya menjadi ramai. Ada penambahan penduduk dari biasanya, karena saat ramadhan tiba kakak-kakak yang merantau biasanya pada pulang ke rumah. Selain itu, Masjid menjadi ramai, pada hari biasa sangat jarang ada yang mengumandnagkan azan. Namun, saat ramadhan tiba, masjid layaknya menjadi tempat favorit yang dikunjungi untuk sholat tarawih, sholat subuh dan mengaji di sore hari.

Main Kembang Api bersama ayah, adek dan kakek
Doc. Tahun 2014
Dini hari yang biasanya masih sangat sepi menjadi ramai karena ada yang berkeliling untuk membangunkan sahu-sahur-sahur. Lalu, dihari pertama kali puasa, anak-anak hingga remaja melakukan jalan-jalan pagi dari ujung desa hingga ke ujung desa. Anak-anak berjalan sambil bercengkerama dengan teman-temannya. Keceriaan yang tergambar layaknya senang karena tidak harus sekolah. Bunyi-bunyian percon dan kembang api menambah keramainan di bulan ramadhan ini.

Aku bersyukur masih sempat merasakan semua hal diatas. Aku pernah sengaja bangun dini hari hanya untuk meihat orang-orang yang berkeliling meneriakkan sahur. Tampilannya adalah dengan sebuah mobil pick up yang di dalamnya terdapat beberapa orang laki-laki dewasa menabuhkan beduk, dan membawa obor sambil meneriakkan sahu-sahur-sahur.

Pengajian memang sudah ada setiap hari tidak harus saat ramadhan tiba. Namun, kalau untuk shalat tarawih merupak bagian spesialnya di bulan ramadhan. Aku pun pernah merasakan sholat tarawih dengan tujuan hanya untuk bermain-main dan mengisi buku bulan ramadhan yang ditugaskan dari sekolah. Iya, untuk anak-anak SD seumuranku saat itu, momen shalat tarawih merupakan momen bagi kami untuk bermain dan makan mie mentah bersama teman. Kami sering kali mengacaukan pelaksanaan shalat tarawih dengan main kejar-kejaran, teriak-teriak, tertawa, memainkan percon dll. Tak jarang kami di tegur oleh orang tua disana, bahkan pernah imam berhenti sejenak dan menegur kami. Tapi, layaknya anak-anak yang masih polos dan lugunya kami hanya berhenti saat ditegur dan mulai lagi saat mereka sudah shalat kembali lalu pura-pura shalat saat sudah memasuki tahyatul akhir. Betapa nakalnya kami dulu.

Aku juga pernah ikut berjalan di pagi hari dengan komplotan teman kecilku. Menghirup udara segar di pagi hari. Berkumpul bersama teman dan bertemu dengan beberapa orang yang belum dikenali. Sangat menyenangkan.Namun, bagian yang sangat menjengkelkan saat kelompok anak laki-laki bermain percon dan melemparkannya kepada kerumunan anak-anak perempuan. I very Angry with them. Lalu, aku pun pernah berpura-pura puasa di depan teman-temanku. 

Haha, yah itulah sekelumit perjalananku hingga akhirnya aku menanyakan kepada ayah, puasa itu apa sih ? Bagaimana niatnya ?.

Ayah menjawab : Puasa merupakan kewajiban bagi seorang muslim, kan  puasa menjadi bagian dari rukum islam. kalau puasa itu artinya kita tidak diperbolehkan makan, minum dan harus melaksanakan shalat lima waktu. Niatnya (Nawaitu Shauma Ghodin Fardisyahri Ramadhana Hadzihi Sanati Lillahita'ala) aku niat berpuasa esok hari dibulan ramadhan fardhu karena Allah ta'ala.

Orang tuaku selalu membangunkan saat sahur tiba walaupun aku tidak berpuasa. Disinilah aku banyak bertanya tentang pertanyaan diatas kepada ayah. Ayah mengajariku melafadzkan niat berpuasa dan kemudian aku mengikutinya. Hari-hari kemudian setiap kali akan memulai makan sahur, ayah menyuruhku untuk memimpin membaca niat sahur. Sangat senang rasanya. Sampai saat itu, aku hanya berpuasa hingga pukul 12.00 siang. 

Sampai suatu ketika, aku mulai tertantang untuk puasa full hingga sampai waktu maghrib. Ayahku mulai membatasiku. Beliau menganggap bahwa aku belum kuat dan belum waktunya untuk melaksanakan puasa full. Semakin dilarang akupun semakin penasaran.

Mungkin kebanyakan dari orang tua lainnya menginginkan ankanya berpuasa sejak dini, tapi tidak dengan ayahku. Ayah tidak memaksakan anaknya untuk berpuasa bahkan sering kali ayah menyuruhku untuk memecahkan puasa tepat dipukul 12.00 (saat SD).

Reaksi yang kutimbulkan kebalikan, aku tidak setuju dengan pendapat ayah, bahkan saat ayah mengajakku makan disiang hari aku kabur. Tidak hanya itu, usaha lainya supaya aku tidak berpuasa aku tidak dibangunkan sahur.

Tentu saja kemudian aku sangat marah. Ekspresi yang kutimbulkan saat itu layaknya seorang anak yang kena TANTRUM : menangis sejadi-jadinya, berguling sambil menangis di lantai , di bawah kursi dll. Waktu itu ayah hanya memberikan pengertian bahwa aku masih kecil sehingga puasanya cukup setengah hari saja. Tapi aku merasakan bahwa ayah sangat khawatir dengan kondisi fisikku. Iya katanya badanku kurus dan kecil jadi harus banyak makan. 

Haha.Tapi, ternyata dari sini aku belajar berpuasa.


Aku memiliki niat yang kuat untuk berpuasa sekalipun itu dilarang. Aku berusaha bangun sendiri saat sahur dan menahan diri dari berbagai macam godaan maknaan. Aku merasakan motivasi internal bukan karena iming-iming seperrti hadiah yang biasanya oran tua persiapkan agar anaknya belajar berpuasa. Walaupun ayah mengajari dengan cara yang antimainstream, tapi aku sungguh bersyukur ayah. :*

Sekarang aku menyadari bahwa aku belajar berpuasa dipacu dari lingkungan sosial dan fisik disekitarku, Kemudian orang tua ku yang membuat proses pembelajaranku menjadi sangat bermakna. Hingga aku sangat suka berpuasa. Aku sangat suka bulan Ramdhan.
Metode apapun bisa digunakan dalam mendidik anak yang terpenting adalah sesuai kebutuhan dan karakteristik anak. Mungkin cara yang orang tuaku pakai bisa manjur karena beliau mengetahui karakteristik anaknya :).
Bulan Ramadhan bulan penuh rahmat untuk membiasakan anak berpuasa, karena seisi alam mendukung. Bagi para orang tua ini ladang yang luas nih :).
Untuk adik-adik yang baru belajar puasa, memang awalnya sedikit berat menahan lapar, namun cukup dinikmati saja ya, puasa seru kok, banyak tantangannya malah. ga bakal nyesel pokoknya kalau nyoba puasa, insya allah ketagihan. hehe

Terima kasih Ayah :*
Rindu Ayah
Ramadhan 1437 H
Kota Hujan, 6 Januari 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Psikoanalisis - Sigmund Freud

MIMPI AKAN MENJADI NYATA

SURAT UNTUK IBU DAN AYAH