Kehawatiran yang tak perlu dikahwatirkan

"10.45"
"11.00"
"11.15"
"11.45"

Alin, mendapati jarum jam di tangannya yang tampak lamban sekali berputar. Kegelisahan tengah ditunjukkan oleh raut mukanya. Ia berlari kecil berpindah tempat antara kelas satu ke kelas yang lainnya, naik ke gedung atas lalu turun ke gedung bawah, pindah ke gedung seberang lalu kembali lagi ke tempat asalnya. Silih berganti tempat yang ia singgahi, nampaknya ia masih belum menemukan apa yang tengah dicarinya.

Alin kembali menarik nafas panjang.
"heeeeeeeeeeeeeeeem --- Huuuuuuuuuuuuuu"
sambil mengelus dadanya. Tangannya tampak sudah siap untuk mengetuk sebuah pintu ruangan. Nampaknya ia ingin menemui seseorang.

Tangannya yang sudah siap mengetuk tiba tiba menjadi kaku dan tertahan tak mengenai sedikitpun bagian dari kayu bagian pintu. Terlihat badannya memutar ke sebelah kiri dengan diiringi langkah kaki. Ia mengurngkan niatnya.

Tampak gusar yang semakin gusar, Alin terlihat semakin tidak tenang.
"Aku harus berani lin, aku harus bisa menghadapi kenyataan didepanku, masa depan tidak akan selalu menakutkan kok!", Alin memotivasi dirinya sendiri.

Nampaknya, hari itu Alin sangat bertekat untuk menuntaskan apa yang tengah ia fikirkan. Ia mencoba cari cara lain. Ia menghampiri teman-temannya yang tengah sibuk.

"Hay, aku boleh duduk disini, aku sednag bingung. Tapi, angap saja aku tidak ada disini yah, karena kemungkinan besar aku akan banyak menlontarkan jata-kata yang mungkin ga akan kalian fahami." Tuutur ia dengan bahasa yang gusar.

"yah ga begitu juga kali lin, kamu kalau mau cerita yah cerita aja, kita sambil dengerin kok. santai aja lin, namanya manusia wajar cerita. apalagi perempuan memang sudah tabiatnya begitu. perlu cerita. Insya Allah mungkin bisa jadi legaan sedikit rasanya" tutur teman Alin yang sangat keibuan.

"ckwkjsoaijfdurgfewrtrgt"
Alin menyampaikan beberapa kalimat yang menjadi keluh kesahnya.

"Yaudah lin, slow aja. Segalanya perlu dikomunikasikan, biar hati jadi tenang. Mulai belajar dari sekarang, hayuuk beranikan dirimu nak!, sekarang karena waktunya sudah mau dzuhur, yuk kamu sholat dulu, tenangkan fikirannya dulu, nanti setelahnya baru temui beliau" dorongan dan motivasi dari si ibu yang keibuan :).

"yah, mungkin aku harus menunggu waktu istirahat, ya Allah mohon tennagkanlah hati dna fikiranku, aku sadar bahwa perasaan gusar seperti ini datangnya dari syaitahn, aku berlindung padamu ya Allah" desah Alin dalam hatinya.

"Baik, nanti setelah jam istoirahat aku akan berusaha menemui beliau kembali" tutur Alin pada ia yang keibuan :)

Alin, bergegas menuju ruang peristirahatannya,

Qadarullah, Allah sangat baik, Allah memberikan jalan keluar yang tengah Alin rasakan, lagi lagi Allah menjulurkan tangannya,

Alin bertemu dengan beliau yang ingin ia temui.

dengan senyum lebar, Alin menyapa beliau.

beliau pun menyambut dengan senyum hangat sraya menyapa :)

"Bu, nanti linda boleh mengobrol bersama ibu?" kebranian yang dtang tiba-tiba Alin rasakan.

"boleh-boleh banget, saya selalu ada di ruangan kok:), silahkan datang dan ditungu yah :)" sambutan hangat beliau sangat menenangkan hati Alin.

----
12.45
Alin kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan beliau yang ingin ia temui.

tot-tok-tok, Assalamuualaikum :) sapa Alin seraya membuka pintu.

"Waalaikum salam, silahkan duduk lin :)" lagi lagi dnegna gay lembutnya

memasuki ruagnan Alin hanya bisa tersenyum, hingga akhirnya percakapan di mulai.

"Jadi bagaimana lin? tanya beliau dnegan sura keibuannya".

"Ia bu, jadi ceritanya memang benar seperti apa yang sudha ibu ketahui. Alin minta doanya yah semoga ini adalah pilihan yang terbaik, sebenarnya Alin saat ini sedih karena sudah terlanjur jatuh htai dan nyaman berada disini, sekaligus Alin takut, apakah nanti di tempaat yang lain Alin akan menjadi lebih baik lagi?" Alin berusaha keras untuk menceritakan apa yang tengah ia rasakan.

"Aamiin, Ibu bahagia ketika mendengar kabar tersebut. Semoga itulah yang terbaik. Lin, Ridha yang kita cari, siap tahu dnegan kamu di temapat yang baru, disitu kamu bisa meraih Ridha-nya, jangan takut yah, karena masa depan kita gaada yang tahu. kamu harus lebih optimis. Ohiya, jangan smapai ada penyesalan nanti di kemudian hari. Lantas, dengan oilihan kamu saat ini naninya akan timmbul kata "Andai saja aku ....", jangan samoai seperti itu lin, yakinlah apa yang terjadi karena memang sudha seharusnya seperti itu, kamu harus bisa struggle!!" beliau memeluk Alin yang tengah berdrai air mata.

"Alin berteri kasih banyak karena sudah diberikan kesempatan untuk berada di sekeliling ornag-orang yang luar bisa bu, Alin sedih karena begitu banyak nikmat yang Alin dapatkan disini namun, Alin tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih. Alin merasa kurnag dri yang lainnya. Tapi Alin mencoba untuk maksimalbu, Alin mhon maaf yah"

dengan derai air mata yang deras, Alin terbata-bata dalam berceriat

"Alin, suka disini bu, karena Alin bisa banyak belajar, disini banyak ibu, jadi Alin tidak merasa kesepian. Ibu Alin udah gaada bu, Jadi, adanya Alin disini, Alin benar-benar bersyukur karena secara tidak langsung Alin punya banyak ibu."

"Ibu Alin sudah meninggalkah?" tanya beliau.

"Ia bu, tepat bulan April yang lalu 1 tahun" jawab Alin singkat.

"Iya Lin, kita disini tetap saudara yah, kita saling doakan yah, sini peluk dulu".

Pelukan hangat dari belaiu yang Alin hormati menutup pertemuan mereka hari itu.
tak lupa Alin berkata.

"Ibu, terima kasih yah, semuanya sekarang jadi lega. Hati ku jadi tenang" senyumnya Alin kembali merekah.

-------

Kegundahan pasti akan pernah dirasakan oleh seseorang, kekahwatiran yang kemudian menjadikan kita sebagai seornag yang penakut.

Saat ini, Alin memiliki sebuah PR besar yaitu bagaimana ia mengatur kekhawatirannya, bagaiamana ia mengelola fikirannya dan menerjemahkanya dalam bentuk kalimat agar bisa dipahami ornag lain.

Menurut Teori belajar Gestalt, Alin harus mulai belajar bagaimana mengorganisir masalah yang ada dnegan berfokus pada solusi atau pemecahan masalahnya. Alin harus bisa melihat masalah secara menyeluruh.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Psikoanalisis - Sigmund Freud

MIMPI AKAN MENJADI NYATA

SURAT UNTUK IBU DAN AYAH