Lingkaran kecil yang menginspirasi

Hampir genap enam bulan ku ditempa, senantiasa di monitori oleh sebuah program pengontrol diri, pengontrol iman dan penyemangat untuk berbuat kebaikan. Layaknya sebuah charger yang berfungsi untuk mengisi sebuah baterai sebuah handphone. Sebuah handphone yang baterainya terisi secara penuh akan lebih bermanfaat. Program itu tak lain ialah Asistensi Agama Islam. Kata yang cocok untuk menggambarkan IPB adalah Berani Beda. Hanya di IPB yang dapat di temui sebuah program yang beda dari Universitas lainnya. Program ini ialah sebuah lingkaran kecil yang terdiri dari beberapa mahasiswa dengan ditemani beberapa kakak asistensi untuk mendampingi kami.
Sebuah lingkaran kecil ini, kita senantiasa diberi suplemen untuk tetap terjaga dan kuat untuk bertakwa kepada Allah SWT. Suplemen yang diberikan adalah materi tentang kehidupan kita di dunia. Di mulai dari alasan kita diciptakan, beribadah yang benar, pentingnya menuntut ilmu dan berkhlak mulia. Materinya disampaikan layaknya sebuah teman yang memberikan nasihat. Suasana yang tampak santai namun tetap dalam sebuah keseriusan dengan niat belajar membuat aku lebih santai untuk bercerita tentang pengalaman, keluhan, masalah dan menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan kebiasaan yang dialami. Di setiap mengawali asistensi ini pasti dibuka dengan sebuah tilawah. Sangat menyejukkan dan menentramkan jiwa.
Suasana yang sangat beda dengan waktu aku duduk di SMA dulu. Untuk
membuka lembaran-lembaran suci itu mungkin hanya beberapa kali dalam satu
tahun. oleh karena itu, aku berada di lingkungan seperti sekarang ini sungguhlah sangat beruntung. Kita juga diberi sebuah kertas yang berisi tentang amalan keseharian yang dilakukan. Setiap amalan yang kita lakukan kita catat di lembaran yang diberikan. Awalnya, merasa kertas itu hanya sekedar kertas biasa tapi ternyata, kertas itu layaknya sebuah apel merah segar berada di atas pohon. Kita akan berusaha untuk menggapai apel tersebut. begitupun kertas itu, semakin melihat kolom catatan amalan di kertas itu, semakin termotivasi untuk menambah amalan kebaikan. Semenjak itu, ibadah sholat selalu berusaha untuk berjamaah dan tepat waktu, mencoba ODOJ (One day one jus), tahajjud, puasa senin-kamis, hafalan, dzikir, berbagi dan berolahraga agar tetap sehat
J. Dulu, yang subuhnya suka kesiangan alhamdulillah sekarang menjadi bangun lebih awal.
Tak hanya sebatas itu , di lingkaran kecil ini kita juga saling bertanya RUJAK. Awalnya, aku mengira RUJAK tu adalah makanan yang terdiri dari berbagai macam buah yang sedikit asam dan di campur dengan sambal kacang. Kuingat, ketika kakak asistensinya bilang RUJAK an ya, aku telah mengkhayalkan itu sebuah makanan. Kupandangi sekeliling apakah ada yang berjualan RUJAK atau kakak nya membawa RUJAK. Sejenak berfikir dimana RUJAKnya ? fikiranku yang terfokus dengan RUJAK itu adalah sebuah makanan buyar seketika saat kakaknya menjelaskan bahwa RUJAK itu adalah sebuah singkatan dari Rukhiyah, Uang, Jasmani, Akademik, dan Keluarga. Cukup kecewa ternyata bukan sebuah makanan yang bisa dimakan L. Satu-persatu secara bergiliran kita menceritakan RUJAK-an masing-masing. Sesaat, aku terlarut dalam sebuah perasaan terharuku. Aku terharu karena baru kali ini aku di tanyain tentang kondisi diri secara lengkap oleh orang-orang yang bahkan cukup baru ku kenal. Di sini aku merasakan sebuah ikatan persaudaraan yang indah yang senantiasa saling mengingatkan untuk tetap berada dalam keimanan kepada Allah.
Lingkaran kecil tempat kita berkumpul ini bertempat di sebuah Masjid kampus ke-2 terbesar di Indonesia . sebuah bangunan yang berdiri kokoh dengan disokong oleh orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah. Ini adalah tempat terfavoritku di IPB. saat kami membentuk alingkarang kecil disini, aku melihat keadaan di sekitar kami. Pemandangan yang sangat indah karena masjid ini ramai dikunjungi untuk beribadah. Tak hanya untuk sholat, disini juga banyak kegiatan lainnya seperti belajar mengaji, mentoring, dan bersilahturahim antar saudara-daudara yang lainnya. Bangunan ini juga dilengkapi dengan kantin yang namanya KRM (Kantin Rindu Masjid). Sesuatu yang menurutku unik ialah setiap menjelang sholat kantin ini akan ditutup. Aku bilang hal ini unik karena di tempatku, masjidnya tak pernah seramai ini dan kantinnya tidak pernah ditutup sekalipun itu waktu sholat. Makanan favorit kami ialah batagor kuah dan mie ayam pangsit. biasanya, kami memesan makanan dan dimakan bersama-sama. Tak hanya itu, terkadang kakak asistensinya membawakan kami puding yang dibuat sendiri oleh beliau. Kami sangat meningmati puding yang dibuat beliau karena sangat enak terlebih lagi karena kami masih tinggal di asrama yang tidak ada tempat untuk memasak. Halini memperlengkap keakraban di antara kita.
Adanya lingkaran kecil ini, membuat saya berfikir untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Nikmat islam yang begitu indah yang memberikan ketentraman di jiwa dan persaudaaraan yang begitu indah yang dulunya tak pernah saya rasakan. Selalu merasa termotivasi untuk meningkatkan keimanan. Disini juga aku dapat melihat banyak saudara yang ingin mengajak kita untuk berada di jalan Allah. Aku sangat bersyukur karena dapat menikmati
nikmat yang begitu indah ini :)
-ditemukan pada file terkirim email, tugas Asistensi Agama 2014-05-21-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Psikoanalisis - Sigmund Freud

MIMPI AKAN MENJADI NYATA

SURAT UNTUK IBU DAN AYAH